Makanlah namun Jangan Asal Halal
Kemudian itu diberikanlah tuntunan oleh Allah tentang makanan itu:”Dan makanlah olehmu apa yang telah dikaruniakan kepada kamu oleh Allah, yang halal lagi baik.”(pangkal ayat 88)
Selama kita masih hidup kita mesti makan. Sebab itu maka makan itu sendiri tidak lagi diperintahkan oleh Allah kepada kita. Sebagaimana al-Quran tidak pernah memerintahkan seseorang kasih kepada anaknya.
Sebab kasih kepada anak telah tumbuh dengan sendirinya. Cuma kasih kepada anak itu dituntun dan diberi peringatan. Bahwasanya kasih kepada anak bisa menjadi bahaya (fitnah) bagi diri sendiri kalau tidak terkendali. Demikian juga fasal makanan dan minuman. Oleh karena kamu sudah mesti makan dan minum, maka pilihlah makanan yang dikaruniakan Allah yang halal lagi baik, Halaalan yang halal , Thayiban, yang baik.
Jangan asal halal saja, padahal tidak baik.
Kita misalkan ada beberapa macam binatang menurut pendapat setengah Ulama halal dagingnya dimakan, sebab tidak tersebut dalam daftar yang telah dinashkan haramnya dalam al-Quran. Sedang yang dinashkan haramnya ialah daging babi, bangkai, darah dan binatang yang disembelih untuk berhala. Lantaran itu maka ada orang yang berpendapat bahwa makanan lain yang tidak termasuk dalam daftar itu halal dimakan. Kalau ada hadis Nabi menyebut binatang yang dilarang lain, seumpama daging binatang buas yang bertaring atau yang bersaing dan daging burung yang mencengkram, mereka masukkan dalam golongan makruh saja. Sebab itu maka menurut jalan pikiran Imam Malik, daging singa halal dimakan. Ada juga orang yang berpendapat bahwa daging anjing tidak ada Nash yang mengharamkannya. Demikian dengan daging ular.
Tetapi orang yang telah mencapai kemajuan hidup, tidak lagi bangsa biadap memandang bahwa meskipun daging singa, anjing atau ular atau burung yang mencengkaram itu tidak jelas haramnya, taruhlah ia halal, namun semuanya itu tidak baik, maka orang yang beriman tidaklah mau memakan saja segala yang halal, kalau yang halal itu tidak baik. Kecuali kalau terdesak benar. Sedangkan daging babi, dirukshahkan memakannya kalau sudah sangat dharurat.
Dan janganlah dimakan asal baik saja, padahal tidak halal.
Misalnya daging babi yang dimasak dengan masakan yang enak, cukup dengan bumbunya yang menitikkan air liur karena lezatnya, tidaklah dia boleh dimakan, sebab dia tidak halal. Atau dagingnya halal, misalkan daging kambing dan masakan enak lagi baik. Padahal jelas dia kambing dicuri, diapun haram dimakan.
Adapula makanan yang tadinya halal, kemudian jadi haram, atau sekurang-kurangnya makruh. Misalnya semacam gulai yang kemarin sangat enaknya. Tetapi setelah malam dia basi. Kalau dimakan juga bisa sakit perut.
Oleh sebab itu, maka didalam memilih makanan yang halal tetapi baik dan yang baik tapi halal ini, selain daripada yang ditentukan oleh Allah dalam al-Quran, diserahkan pulalah dalam ijtihad kita sendiri memilih mana yang halal lagi baik itu. Itu sebabnya maka ujung ayat berbunyi: “Dan takwalah kepada Allah dan kepadaNyalah kamu beriman.” (Ujung ayat 88)
Dengan ketentuan Allah tentang halal dan baik, lalu diserahkan kepada pertimbangan batin, yaitu takwa dan iman, bertambah pentinglah jadinya memilih makanan dan minumam yang layak di dunia ini. Itu sebabnya maka apabila kita hendak memakan suatu makanan, disuruhkan dengan tekanan keras agar membaca Bismillah. Dan sehabis makan disuruh pula dengan tekanan keras memuji Allah, Alhamdulillah.
“Daripada Umar bin Abu Salamah ra berkata dia; berkata Rasulullah saw; Sebut nama Allah, dan makan dengan tangan kanan dan hendaklah engkau makan makanan yang dikeliling engkau saja”
(Dirawikan oleh Bukhari dan Muslim)
Diceritakan pula oleh seorang sahabat Rasulullah saw bernama Umaiyah bin Makhsyi, bahwa pada suatu hari Rasulullah saw sedang duduk, dan di dekat beliau ada seorang laki-laki sedang makan, tetapi dia tidak memulai dengan membaca Bismillah dan dia makan terus, sampai hanya tinggal kira-kira sesuap. Setelah disuap penghabisan itu, baru dia teringat membaca; Bismillah, dari awal sampai ke ujungnya. Nabi tersenyum melihat lakunya demikian. Lalu Nabi bersabda: “Sejak semula syaitan telah makan bersama-sama dengan dia. Tetapi setelah dia membaca Bismillah keluarlah syaitan-syaitan itu dari dalam perutnya.” (Dirawikan oleh Abu Daud dan an-Nasa'i).\
“Dan daripada Abu Umamah ra bahwasanya Nabi saw apabila hidangan telah diangkat (selesai makan) berkata beliau: Segala puji-pujian bagi Allah, pujian sebanyak-banyaknya, sebaik-baiknya: tidak merasa telah cukup: tidak merasa telah terkaya daripadanya, ya Tuhan kami.”
(Dirawikan oleh Bukhari).
Akhirnya tidak ada yang selain dari Allah yang akan dapat mencukupkan makanan kita:
“Daripada Mu'az bin Anas ra berkata dia: Berkata Rasulullah saw:”Barangsiapa yang memakan suatu makanan, kemudian dia berkata ”Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini dan memberikannya sebagai rezeki untuk aku, diluar daya upayaku, di luar kuat kuasaku, akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu.”
(Dirawikan oleh Abu Daud dan at-Termidzi dan dia berkata bahwa Hadis ini Hasan)
Maka banyaklah hadis-hadis yang menerangkan bagaimana hubungan makanan halal dan baik itu dengan kehidupan kita. Sampai ada hadis Rasulullah saw menerangkan darihal seorang laki-laki yang berjalan mengembara ke mana-mana, sampai tidak berketentuan pakaiannya, kotor bajunya, kusut masai rambutnya, dan selalu menadahkan tangan ke langit. Memohon “Ya Tuhan, ya Tuhan,” memohon berbagai permohonan, padahal yang dimakannya yang haram, yang diminumnya haram. Bagaimana Allah akan dapat memperkenankan permohonannya.
Oleh sebab itulah maka banyak Ulama-ulama menyimpulkan hadis-hadis yang berkenaan dengan makanan dan minuman, adab makan dan adab minum, sampai kepada cara-caranya. Ditulis oleh al-Hafizh al-Imam al-Mundzin di dalam kitab hadisnya yang bernama At Targhib Wat Tarhib.
Sampai-sampai al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menulis di dalam kitabnya Madarijus Salikin menerangkan betapa besar pengaruh makanan yang halal kepada mimpi-mimpi. Beliau berkata bahwa kalau engkau ingin mimpi yang baik, hendaklah terlebih dahulu engkau jaga benar agar makanan dan minuman yang masuk rongga mulutmu itu makanan dan minumam yang halal. Sesudah itu berwudulah dan sembayanglah dua rakaat. Sesudah itu tidurlah berbaring ke sebelah kanan, sebaiknya menghadap kiblat. Kesan pertama katau beliau ialah bahwa engkau tidak akan mendapat mimpi yang menakutkan, dan tidurmu akan nyenyak walaupun sebentar. Kesan kedua, lama-lama dan sesekali waktu engkau akan diberi mimpi yang indah atau yang baik ta'wilnya.
Ayat ini menjadi sangat penting artinya buat difikirkan oleh orang yang memupuk takwa dan Iman didalam hatinya, sebagai tersebut di ujung ayat, apatah lagi bila disesuaikan pula dengan kemajuan ilmu pengetahuan kedokteran, pengaruh makanan amat besar kepada tubuh dan jiwa. Patokan telah ditunjukkan Allah di ayat ini, yaitu halal dan baik.
Kita teringat bahwa pada akhir bulan Juni 1965, seketika tafsir ini kita tulis, bahwa di Bali diadakan satu Symposium darihal memajukan kesehatan rakyat di Pulau Bali itu yang penduduknya menganut agama Hindu-Bali. Banyak Doktor-doktor yang ahli hadir dan memberikan tanggapan fikiran. Seorang Doktor pemeluk Hindu-Bali mengemukakan hasil Ressearchnya bahwa salah satu penyakit yang diidapkan oleh penduduk Bali itu adalah penyakit cacing pita. Penyakit itu kata dokter Hindu-Bali tersebut berasal dari makan daging babi mentah dan meminum darah mentah. Dalam upacara-upacara Agama, orang Hindu-Bali suka sekali melakukan hal itu. Dokter itu menganjurkan dari segi kesehatan, agar dapatlah hendaknya orang Bali menghentikan makanan demikian.
Kita bersyukur menjadi orang Islam. Sebab Agama kita memberikan tuntunan kepada kita tentang makanan yang halal dan yang baik.

0 komentar:
Posting Komentar