Minggu, 29 Mei 2016

083-086 Al-Maidah (Part 2) Dialog Ja'far dengan Raja Habsyi dan Perutusan Quraisy


 Dialog Ja'far dengan Raja Habsyi dan Perutusan Quraisy

tag: tafsir alquran surat al Maidah ayat 83 sampai 86, dialog Ja'far dengan Raja Habsyi dan perutusan Quraisy, tafsir alquran, tafsir al-quran, tafsir al-azhar buya hamka, tafsir al azhar, cahaya alquran terjemahan alquran, belajar alquran, memahami alquran, kisah kisah dalam alquran.

 


Gagal sama sekali perutusan Quraisy yang dilaksanakan oleh 'Amr bin al-Ash dan Ummarah bin a;-Walid itu. Mereka kembali ke Makkah dengan tangan hampa. Malahan Najasyi tertarik kepada Islam, lalu masuk Islam. Sampai Nabi saw mewakilkan kepada beliau mengakadkan nikah beliau dengan Ummu Habibbah, anak Abu Sufyan yang di kala itu sangat memusuhi Rasulullah saw. Dan kemudian setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, kembalilah Ja'far bersama rombongannya ke tanah air, Tanah Arab, langsung ke Madinah. Bersama dengan dia, Najasyi Ashamah itu mengutus pula beberapa pendeta dan Rahib-rahib, gunanya untuk mengeratkan hubungan silaturahmi dengan Rasulullah saw. Menurut riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang diterima dari as-Suddi bilangan utusan yang datang bersama Ja'far itu ialah dua belas orang. Tujuh pendeta dan lima orang Rahib-rahib, setelah mereka hadir di dalam Majelis Rasulullah, dibacakanlah kepada mereka beberapa ayat dari al-Quran, merekapun terharu dan menangis mendengarkannya, lalu mereka memeluk islam.


Ada dua tiga riwayat lagi berkenaan dengan Najasyi dan pendeta-pendeta masuk Islam itu. Menurut riwayat yang lain dari Ibnu Abbas tatkala pertemuan di Istana Najasyi itu, utusan kaum Quraisy dahulu masuk dan Muhajirin itu datang kemudian, mereka masuk dengan mengucapakan Assalamu'alaikum, maka utusan Quraisy sudah mencoba pula menghasut. Mengatakan bahkan salam mereka lain dari salam Nasrani. Maka Najasyi bertanya, mengapa mereka tidak mengucapkan salam menurut adat yang terpakai dalam negeri itu Ja'far menjawab “Kami mengucapkan salam kepada tuan, dengan salamnya ahli syurga dan Malaikat!”
Alhasil, dapatlah disimpulkan dari riwayat-riwayat itu bahwasanya baik Najasyi, ataupun pendeta-pendeta baginda terpesona oleh ayat-ayat yang dibaca, sehingga mereka memeluk Islam. Memang Surat Maryam yang diturunkan di Makkah itu kalau dibaca dengan seksama, terutama oleh orang Nasrani yang jujur, teranglah akan mengharukan hati mereka. Sebab di dalam kitab-kitab Injil yang empat itu sendiri, tidaklah terdapat pembelaan dan pujian yang sampai setinggi itu kepada Maryam.

Kita teringat bahwa pada kira-kira tahun 1950, seorang Uskup Katholik di Amerika, Uskup Shean pun pernah menyatakan penghargaan dan rasa hormatnya kepada Islam, karena karena penghormatan Islam yang demikian luhur terhadap Maryam, meskipun beliau tidak masuk Islam.
Silaturahmi dengan Najasyi tidak putus hingga itu saja. Setelah terdengar bahwa beliau telah mangkat, Rasulullah saw mengajak sahabat-sahabat mengerjakan Sholat ghaib buat Baginda. Cuma riwayat tidak menyebutkan lagi tentang pendeta-pendeta utusan itu, apakah mereka kembali pulang ke negerinya dan menyebarkan Islam di sana. Apakah lagi kemudian perkembangan Islam melanjut ke Utara, yaitu ke negeri Syam dan ke Irak, sehingga hubungan dengan Habsyi putus, dan Najasyi-najasyi yang datang kemudian, kembali ke dalam agama Nasrani.
Untuk melengkapi penafsiran ayat ini, kita salinkan sebuah riwayat lagi dari as-Suyuti dalam tafsirnya Ad-Durrul Mantsur yang diambilnya dari riwayat ath-Thabrani secara ringkas dan riwayat al-Baihaqi yang agak panjang, menerangkan pula kejadian lain tengang Pendeta-pendeta dan Rahib-rahib yang muliawan dan budiman itu, yaitu mengenai kisah Salman al-Farisi masuk Islam. risalahnurhamka.blogspot.co.id Disebutkan ringkasannya bahwa Salman dahulunya adalah beragama Majusi yang sedang mencari-cari agama yang lebih benar. Di Mausil itu mereka menemui pula seorang pendeta lain yang lebih tua, bertapa pada sebuah gua. Banyak orang menziarahi beliau, dan beliau banyak memberi nasihat kepada orang-orang yang menziarahinya. 

Dia memberi keterangan kepada Salman al-Farisi tentang penerus Nabi Isa, bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya. Dan pendeta itu tidaklah keluar-keluar dari dalam guanya, melainkan pada hari Ahad. Maka Salmanpun meneruskan perjalanannya dengan pendeta yang mula bertemu tadi, sampai ke Baitul Maqdis disanalah pendeta itu menyembuhkan orang sakit lumpuh dan di Baitul Maqdis itulah Salman mulai berpisah dengan dia. Dia memberikan nasihat supaya kalau berjumpa dengan Nabi itu hendaklah iman kepadanya. Kemudian mereka pun berpisah dan tak sempat berjumpa lagi. Salman meneruskan perjalanannya menumpang sebuah Kalifah ke Madinah. Disana Salman berjumpa dengan Rasulullah dan melihat tanda-tanda itu, lalu memeluk Islam. Oleh karana dia diperniagakan orang sebagai budak. Maka beramai-ramailah penduduk Madinah untuk menebus dia. Dalam sejarah Islam, Salman kemudian menjadi salah seorang yang penting, keraplah dia menceritakan bahwa dia memeluk Islam adalah karena petunjuk dari seorang pendeta yang menemaninya sampai ke Baitul Maqdis itu.

Dengan berbagai riwayat ini kita mendapat suatu kesan bahwa di zaman itu memang ada pendeta-pendeta yang tetap berpegang teguh kepada kepercayaan bahwa Almasih tetaplah Rasul Allah, dan masih pula percaya akan kedatangan Nabi di akhir zaman.


0 komentar: