Dialog Ja'far dengan Raja Habsyi dan Perutusan Quraisy
tag: tafsir alquran surat al Maidah ayat 83 sampai 86, dialog Ja'far dengan Raja Habsyi dan perutusan Quraisy, tafsir alquran, tafsir al-quran, tafsir al-azhar buya hamka, tafsir al azhar, cahaya alquran terjemahan alquran, belajar alquran, memahami alquran, kisah kisah dalam alquran.
Gagal sama sekali perutusan Quraisy
yang dilaksanakan oleh 'Amr bin al-Ash dan Ummarah bin a;-Walid itu.
Mereka kembali ke Makkah dengan tangan hampa. Malahan Najasyi
tertarik kepada Islam, lalu masuk Islam. Sampai Nabi saw mewakilkan
kepada beliau mengakadkan nikah beliau dengan Ummu Habibbah, anak Abu
Sufyan yang di kala itu sangat memusuhi Rasulullah saw. Dan kemudian
setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, kembalilah Ja'far bersama
rombongannya ke tanah air, Tanah Arab, langsung ke Madinah. Bersama
dengan dia, Najasyi Ashamah itu mengutus pula beberapa pendeta dan
Rahib-rahib, gunanya untuk mengeratkan hubungan silaturahmi dengan
Rasulullah saw. Menurut riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang
diterima dari as-Suddi bilangan utusan yang datang bersama Ja'far itu
ialah dua belas orang. Tujuh pendeta dan lima orang Rahib-rahib,
setelah mereka hadir di dalam Majelis Rasulullah, dibacakanlah kepada
mereka beberapa ayat dari al-Quran, merekapun terharu dan menangis
mendengarkannya, lalu mereka memeluk islam.
Ada dua tiga riwayat lagi berkenaan
dengan Najasyi dan pendeta-pendeta masuk Islam itu. Menurut riwayat
yang lain dari Ibnu Abbas tatkala pertemuan di Istana Najasyi itu,
utusan kaum Quraisy dahulu masuk dan Muhajirin itu datang kemudian,
mereka masuk dengan mengucapakan Assalamu'alaikum, maka utusan
Quraisy sudah mencoba pula menghasut. Mengatakan bahkan salam mereka
lain dari salam Nasrani. Maka Najasyi bertanya, mengapa mereka tidak
mengucapkan salam menurut adat yang terpakai dalam negeri itu Ja'far
menjawab “Kami mengucapkan salam kepada tuan, dengan salamnya ahli
syurga dan Malaikat!”
Alhasil, dapatlah disimpulkan dari
riwayat-riwayat itu bahwasanya baik Najasyi, ataupun pendeta-pendeta
baginda terpesona oleh ayat-ayat yang dibaca, sehingga mereka memeluk
Islam. Memang Surat Maryam yang diturunkan di Makkah itu kalau dibaca
dengan seksama, terutama oleh orang Nasrani yang jujur, teranglah
akan mengharukan hati mereka. Sebab di dalam kitab-kitab Injil yang
empat itu sendiri, tidaklah terdapat pembelaan dan pujian yang sampai
setinggi itu kepada Maryam.
Kita teringat bahwa pada kira-kira
tahun 1950, seorang Uskup Katholik di Amerika, Uskup Shean pun pernah
menyatakan penghargaan dan rasa hormatnya kepada Islam, karena karena
penghormatan Islam yang demikian luhur terhadap Maryam, meskipun
beliau tidak masuk Islam.
Silaturahmi dengan Najasyi tidak putus
hingga itu saja. Setelah terdengar bahwa beliau telah mangkat,
Rasulullah saw mengajak sahabat-sahabat mengerjakan Sholat ghaib buat
Baginda. Cuma riwayat tidak menyebutkan lagi tentang pendeta-pendeta
utusan itu, apakah mereka kembali pulang ke negerinya dan menyebarkan
Islam di sana. Apakah lagi kemudian perkembangan Islam melanjut ke
Utara, yaitu ke negeri Syam dan ke Irak, sehingga hubungan dengan
Habsyi putus, dan Najasyi-najasyi yang datang kemudian, kembali ke
dalam agama Nasrani.
Untuk melengkapi penafsiran ayat ini,
kita salinkan sebuah riwayat lagi dari as-Suyuti dalam tafsirnya
Ad-Durrul Mantsur yang diambilnya dari riwayat ath-Thabrani secara
ringkas dan riwayat al-Baihaqi yang agak panjang, menerangkan pula
kejadian lain tengang Pendeta-pendeta dan Rahib-rahib yang muliawan
dan budiman itu, yaitu mengenai kisah Salman al-Farisi masuk Islam.
risalahnurhamka.blogspot.co.id Disebutkan ringkasannya bahwa Salman dahulunya adalah beragama Majusi
yang sedang mencari-cari agama yang lebih benar. Di Mausil itu
mereka menemui pula seorang pendeta lain yang lebih tua, bertapa pada
sebuah gua. Banyak orang menziarahi beliau, dan beliau banyak memberi
nasihat kepada orang-orang yang menziarahinya.
Dia memberi keterangan
kepada Salman al-Farisi tentang penerus Nabi Isa, bahwa beliau adalah
hamba Allah dan RasulNya. Dan pendeta itu tidaklah keluar-keluar dari
dalam guanya, melainkan pada hari Ahad. Maka Salmanpun meneruskan
perjalanannya dengan pendeta yang mula bertemu tadi, sampai ke Baitul
Maqdis disanalah pendeta itu menyembuhkan orang sakit lumpuh dan di
Baitul Maqdis itulah Salman mulai berpisah dengan dia. Dia memberikan
nasihat supaya kalau berjumpa dengan Nabi itu hendaklah iman
kepadanya. Kemudian mereka pun berpisah dan tak sempat berjumpa lagi.
Salman meneruskan perjalanannya menumpang sebuah Kalifah ke Madinah.
Disana Salman berjumpa dengan Rasulullah dan melihat tanda-tanda itu,
lalu memeluk Islam. Oleh karana dia diperniagakan orang sebagai
budak. Maka beramai-ramailah penduduk Madinah untuk menebus dia.
Dalam sejarah Islam, Salman kemudian menjadi salah seorang yang
penting, keraplah dia menceritakan bahwa dia memeluk Islam adalah
karena petunjuk dari seorang pendeta yang menemaninya sampai ke
Baitul Maqdis itu.


0 komentar:
Posting Komentar