Tafsir Al-Azhar Al-Quran Al-Maidah Ayat 83-86
وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ
مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا
فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ﴿٨٣﴾
(83)Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).
وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَن
يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ﴿٨٤﴾
(84)Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?".
فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ﴿٨٥﴾
(85)Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).
وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ﴿٨٦﴾
(86)Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.
Terjemah dalam tafsir Al -Azhar (Dalam text terjemahan dibawah huruf arab menggunakan terjemahan dari departemen agama. Namun juga kami lampirkan terjemahan asli yang ada di tafsir al-Azhar. Perbedaan penafsiran ini dikarenakan penyusunan tafsir al-Azhar dilakukan sekitar tahun 1965, sehingga wajar bila ada perbedaan terjemahan dengan terjemahan departemen agama sekarang.)
ayat 83 “Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, akan engkau lihat airmata mereka meleleh, lantaran apa yang telah mereka ketahui setengah dari kebenaran, merekapun berkata : Ya Tuhan kami, kami telah percaya, sebab itu tuliskanlah kami dari golongan orang-orang yang menyaksikan”.
Ayat 84 “Mengapalah kami tidakkan beriman kepada Allah dan kepada yang datang kepada kami daripada kebenaran, dan rindulah kami akan dimasukkan kami oleh Tuhan kami beserta kaum yang shalih.”
Ayat 85 Maka memberi pahalalah Allah kepada mereka lantaran apa yang telah mereka katakan itu, yaitu syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya. Dan itulah ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik.
Ayat 86 Dan orang-orang yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Kami, adalah mereka itu ahli neraka.
Ayat 83 ini adalah sambungan ayat sebelumnya, menerangkan bahwa orang Nasrani di zaman Rasullullah saw itu lebih dekat kepada orang yang beriman daripada orang Yahudi dan orang Muysrikin. Sebab yang utama adalah karena waktu itu memang ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang benar-benar jujur dan berhati bersih. Menurut kebiasaan pembagian juz-juz AlQuran, ayat 82 termasuk ujung juz 6 dan ayat 83 termasuk permulaan juz 7, sehingga terputus, padalah makna keduanya bersambung, maka sekarang diterangkanlah lanjutan bagaimana kebersihan hati pendeta-pendeta dan Rahib-rahib itu.
“Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, akan engkau lihat airmata mereka meleleh, lantaran apa yang telah mereka ketahui setengah dari kebenaran” (pangkal ayat 83).
Demikianlah sambutan Pendeta-pendeta dan Rahib-rahib yang hati mereka penuh dengan kemuliaan itu bila mereka mendengar al-Quran dibacakan kepada mereka. Mereka sampai menangis mendengar beberapa ayat saja dibacakan. Sebab itu maka dikatakan di dalam ayat sebab mereka mengangis adalah setelah mereka mengetahui setengah dari kebenaran (Minal Haqqi). Baru sebagian saja yang mereka dengar, mereka sudah terharu, kononlah jika mereka mendengar seluruh isi al-Quran.
Menurut riwayat an-Nasai dan Ibnul Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabrani dan Abusy-Syaikh dan Ibnu Mardawaihi, yang mereka terima dari Abdullah bin Zubair, pendeta-pendeta dan Rahib-rahib ini ialah orang-orang pembesar agama, yang hadir dalam majelis Najasyi ketikia dibacakan ayat-ayat al-Quran. Riwayat yang lain dari Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim dan Abu Naim di dalam kitabnya Al-Hullyah dan Al Wahidy dan Ibnu Syahab. Dia berkata
“Mengkhabarkan kepadaku Sa'id bin al-Musayyab dan Abu Bakar bin Abdurrahman dan al-Harits Ibnu Hisyam dan Urwah bin Zubair, mereka semua mengatakan, bahwa Rasulullah saw telah mengutus Amr bin Umayyah adh-Dhamriy membawa sepucuk surat kepada Najasyi. Maka pergilah dia menghadap Najasyi, dan dibacalah surat Rasulullah itu.” Jadi rupanya isi surat Rasulullah saw ialah meminta supaya sudi kirinya Najasyi memberikan perlindungan kepada sabahat-sahabat beliau yang telah datang memperlindungkan diri ke negeri itu, yang dikepalai oleh Ja'far bin Abu Thalib. Maka setelah Baginda Raja Najasyi mendengar isi surat Rasulullah dibacakan, Baginda suruhlah panggil orang-orang Muhajirin itu dengan ketuanya sekali, yaitu Ja'far. Kemudian itu Baginda menyuruh pula panggil Pendeta-pendeta dan Rahib-rahib supaya merekapun turut hadir dalam Majelis itu. Kemudian Baginda suruhlah Ja'far membaca sebagian dari ayat-ayat Al-Quran dihadapan Pendeta-pendeta dan Rahib-rahib itu. Oleh Ja'far dibacanyalah Surat Maryam. Mendengar surat itu dibacakan, berimanlah mereka semuanya dan bercucuran airmata mereka mendengarkan.
Tersebutlah pula dalam riwayat yang lain dari Abusy-Syaikh, yang diterimanya dari Qatadah, bahwa ketua-ketua Quraisy tiada bersenang hati karena mereka melindungkan diri kenegeri itu. Banyaknya empat puluh orang, maka diutuslah oleh Quraisy dua orang yang bijak untuk menghadap Najasyi. Memohonkan agar orang-orang Muhajirin itu diserahkan kembali kepada mereka, supaya mereka bawa pulang ke Makkah. Kedua utusan itu ialah 'Amr bin al Ash dan Ummarah bin al-Walid. (Sebelum keduanya masuk Islam). Tetapi Najasyi tidaklah mau memperturutkan kedua utusan itu sebelum Baginda mendengar sendiri dari orang-orang itu apa sebenarnya pendirian agama mereka terhadap Nabi baru itu. Lalu mereka dipanggil menghadap sehingga berhadap-hadapanlah mereka dengan utusan Quraisy dlam Majelis Najasyi.
Seketika Najasyi bertanya tentang Nabi itu, atas nama bersama Ja'far memberikan keterangan. “Memang, kepada kami telah diutus seorang Nabi, sebagai yang telah diutus juga kepada umat-umat yang sebelum kami. Dia telah menyeru kami berbuat ma'ruf, dia telah melarang kami berbuat yang munkar. Dia telah memerintahkan kami supaya menghubungkan kasih-sayang dan jangan memutuskannya. Dia telah menyuruh kami memenuhi janji dan melarang kami memungkirinya. Tetapi sayang sekali, kaum kami telah benci kepada kami lantaran itu, sampai kami diusir karena kami percaya kepadanya. Maka tidak ada kami menapak orang lain untuk mencari perlindungan, melainkan engkaulah. Dan itu sebabnya maka kami ke mari.” mendengar itu terharu Najasyi dan serta-merta dia menyambut “Memang”.
Tetapi 'Amr bin al'Ash belum kehabisan akal, lalu dia berkata sebagai hasutan. “Mereka berkata tentang Isa lain sekali dengan apa yang kamu percayai!” Maka bertanyalah Najasyi kepada mereka. Bagaimana kepercayaan kamu tentang Isa Almasih? Lalu mereka jawab “Kami naik saksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan RasulNya dan KalimatNya dan RohNya. Dilahirkan oleh seorang perawan yang suci!” lalu Najasyi menyahut “Memang begitu. Kalian tidak salah!” Lalu Baginda berkata pula kepada 'Amr dan kawannya itu “Kalau bukanlah kalian ini tetamuku, niscaya telah aku hukum kalian” (BERSAMBUNG )


0 komentar:
Posting Komentar