Selasa, 31 Mei 2016

083-086 Al-Maidah (Part 3) Iman di Lisan dan Tindakan


083-086 Al-Maidah (Part 3) Iman di Lisan dan Tindakan.




Riwayat perkembangan Kristen sendiripun mengakui timbulnya perselisihan di kalangan mereka, yang akhirnya telah meletakkan golongan yang berpegang teguh pada tauhid menjadi golongan yang kalah, dikucilkan dan disisihkan, dan kepercayaan mereka tidak dianggap sah. Meskipun demikian di setiap zaman timbul juga golongan itu dan ditindas juga, namun ketimbulannya tidaklah dapat dibendung. Dan kadang-kadang timbul juga pendeta-pendeta yang bersih hati, terbuka hatinya kepada kebenaran, lalu masuk Islam. Malahan Raja besar sebagai Najasyi dan beberapa di antara Pendeta dan Rahib pengikutnya, dengan sukarela sendiri memeluk Islam. Heraclius Raja Romawi di Suriah dan Muqauqis Raja Muda Romawi di Mesir tidak dapat memeluk kebenaran seruan Islam itu, cuma jabatan mereka masing-masing saja yang menyebabkan mereka tidak mau memeluk Islam, karena tidak mempunyai keberanian budi. Berlainan halnya dengan Jafar dan adikny 'Abd, dua orang Raja di negara Oman, setelah mereka menerima seruan Rasulullah, merekapun memeluk Islam. Sebagai yang dulu telah pernah kita terangkan.

Kemudian dilanjutkan pula tentang keadaan Pendeta-pendeta dan Rahib-rahib yang terbuka hati menerima iman karena mendengar ayat-ayat alQuran itu. Demikian lanjutannya “Mereka berkata: Ya Tuhan kami, kami telah percaya.” Artinya bahwa segala keterangan ayat-ayat itu telah kami dengar, maka tidaklah dapat dibantah kebenarannya, sebab itu berimanlah kami kepadanya: “Sebab itu tuliskanlah kami dari golongan orang-orang yang menyaksikan.” (Ujung ayat 83).

Artinya, catatkanlah kami, atau masukkanlah kami dalam daftar orang yang menyaksikan dan mengakui. Tegasnya lagi bahwa dengan begini, terimalah kiranya syahadat kami: Asyhadu alla ilaha illallah, wa ashyhadu anna Muhammadar Rasulullah!

Lalu dilanjutkan lagi keterangan dan alasan mereka, mengapa mereka bersikap setegas itu? Lalu datang jawaban dalam terusan ayat:” Mengapalah kami tidakkan beriman kepada Allah dan kepada yang datang kepada kami daripada kebenaran .” (pangkal ayat 84)

Mengapalah kami tidak beriman kepada yang diturunkan Allah ini yaitu Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw padahal setelah kami ujikan dengan wahyu yang terlebih dahulu didatangkan kepada kami dengan perantaran nabi-nabi yang terdahulu, baik Musa ataupun Isa Almasih, nyata bahwa hakikatnya satu jua dan kebenaran itu hanya satu.

“Dan rindulah kami akan dimasukkan oleh Tuhan kami beserta kaum yang shalih” (ujung ayat 84).

Ujung ayat ini adalah menunjukkan kelanjutan wajar dari iman. Kalau seseorang telah mengakui kebenaran Wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw karena memang sesuai dengan pokok ajaran segala agama, timbullah cita-cita dan kerinduan agar dimasukkan Allah dalam golongan orang yang shalih-shalih. Kalau pengakuan atas kebenaran telah ada, kalau iman sudah diterima, mestilah ada kelanjutannya, yaitu melaksanakan keimanan itu dalam kehidupan sehari-hari.



Agar bertemu diantara teori dengan praktek. Tidaklah mungkin seseorang mengaku dirinya beriman, kalau tidak nampak usahanya menyesuikan kehidupannya dengan kepercayaan yang dianutnya. Maka didalam ayat ini diterangkan bahwa Pendeta-pendeta Nasrani itu, setelah mereka mengaku beriman, bercita pula agar Allah memasukkan mereka dalam golongan orang-orang yang shalih dan kehidupan yang shalih itu telah mereka saksikan sendiri pada sahabat-sahabat Rasulullah saw yang datang melindungkan diri ke negeri Habsyi itu. Seumpama Ja'far bin Abu Thalib, Usman bin Mazh'un dan Muhajirat. Yang selama mereka melindungkan diri di negeri Habsyi itu, kehidupan mereka sehari-hari, ketinggian budi dan akhlak mereka patut dijadikan contoh teladan. Contoh ketinggian budi yang diperlihatkan oleh sikap hidup lebih besar pengaruhnya daripada pidato-pidato atau ucapan mulut.



Ayat ini memberi contoh teladan kepada kita. Bahwasanya kehidupan Muslim yang sejati, yang shalih dapatlah menarik hati orang lain agama, yang batinnya tidak terpengaruh oleh rasa benci yang telah ditanamkan beratus-ratus tahun. Ketika Mulana Abdul Aleem ash-Shiddiqy, seorang Mubaligh Islam dari Pakistan mengadakan pidato-pidato dan da'wah dibeberapa negeri di Eropa dan Amerika, banyak orang Kristen tertarik kepada Islam dengan bimbingan beliau. Sebab yang utama ialah dalam kehidupannya sendiri Maulana tersebut menunjukkan teladan hidup yang sederhana.



Syaikh Muhammad Abduh pernah menceritakan bahwasanya seketika beliau melawat di beberapa negeri di Eropa, sesampai beliau di Weenen, seorang perempuan Eropa telah tertarik kepada belau, lalu meminta petunjuk kepada beliau berkenaan dengan Islam. Perempuan itu menyatakan terus terang bahwa selama ini dia menyangka bahwa yang bisa hidup shalih itu hanya Pendeta-pendeta Kristen saja. Tetapi setelah melihat beliau dan memperhatikan sikap hidupnya, barulah perempuan itu tahu bahwa di luar Kristenpun ada orang seperti demikian.

Minggu, 29 Mei 2016

083-086 Al-Maidah (Part 2) Dialog Ja'far dengan Raja Habsyi dan Perutusan Quraisy


 Dialog Ja'far dengan Raja Habsyi dan Perutusan Quraisy

tag: tafsir alquran surat al Maidah ayat 83 sampai 86, dialog Ja'far dengan Raja Habsyi dan perutusan Quraisy, tafsir alquran, tafsir al-quran, tafsir al-azhar buya hamka, tafsir al azhar, cahaya alquran terjemahan alquran, belajar alquran, memahami alquran, kisah kisah dalam alquran.

 


Gagal sama sekali perutusan Quraisy yang dilaksanakan oleh 'Amr bin al-Ash dan Ummarah bin a;-Walid itu. Mereka kembali ke Makkah dengan tangan hampa. Malahan Najasyi tertarik kepada Islam, lalu masuk Islam. Sampai Nabi saw mewakilkan kepada beliau mengakadkan nikah beliau dengan Ummu Habibbah, anak Abu Sufyan yang di kala itu sangat memusuhi Rasulullah saw. Dan kemudian setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah, kembalilah Ja'far bersama rombongannya ke tanah air, Tanah Arab, langsung ke Madinah. Bersama dengan dia, Najasyi Ashamah itu mengutus pula beberapa pendeta dan Rahib-rahib, gunanya untuk mengeratkan hubungan silaturahmi dengan Rasulullah saw. Menurut riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang diterima dari as-Suddi bilangan utusan yang datang bersama Ja'far itu ialah dua belas orang. Tujuh pendeta dan lima orang Rahib-rahib, setelah mereka hadir di dalam Majelis Rasulullah, dibacakanlah kepada mereka beberapa ayat dari al-Quran, merekapun terharu dan menangis mendengarkannya, lalu mereka memeluk islam.


Ada dua tiga riwayat lagi berkenaan dengan Najasyi dan pendeta-pendeta masuk Islam itu. Menurut riwayat yang lain dari Ibnu Abbas tatkala pertemuan di Istana Najasyi itu, utusan kaum Quraisy dahulu masuk dan Muhajirin itu datang kemudian, mereka masuk dengan mengucapakan Assalamu'alaikum, maka utusan Quraisy sudah mencoba pula menghasut. Mengatakan bahkan salam mereka lain dari salam Nasrani. Maka Najasyi bertanya, mengapa mereka tidak mengucapkan salam menurut adat yang terpakai dalam negeri itu Ja'far menjawab “Kami mengucapkan salam kepada tuan, dengan salamnya ahli syurga dan Malaikat!”
Alhasil, dapatlah disimpulkan dari riwayat-riwayat itu bahwasanya baik Najasyi, ataupun pendeta-pendeta baginda terpesona oleh ayat-ayat yang dibaca, sehingga mereka memeluk Islam. Memang Surat Maryam yang diturunkan di Makkah itu kalau dibaca dengan seksama, terutama oleh orang Nasrani yang jujur, teranglah akan mengharukan hati mereka. Sebab di dalam kitab-kitab Injil yang empat itu sendiri, tidaklah terdapat pembelaan dan pujian yang sampai setinggi itu kepada Maryam.

Kita teringat bahwa pada kira-kira tahun 1950, seorang Uskup Katholik di Amerika, Uskup Shean pun pernah menyatakan penghargaan dan rasa hormatnya kepada Islam, karena karena penghormatan Islam yang demikian luhur terhadap Maryam, meskipun beliau tidak masuk Islam.
Silaturahmi dengan Najasyi tidak putus hingga itu saja. Setelah terdengar bahwa beliau telah mangkat, Rasulullah saw mengajak sahabat-sahabat mengerjakan Sholat ghaib buat Baginda. Cuma riwayat tidak menyebutkan lagi tentang pendeta-pendeta utusan itu, apakah mereka kembali pulang ke negerinya dan menyebarkan Islam di sana. Apakah lagi kemudian perkembangan Islam melanjut ke Utara, yaitu ke negeri Syam dan ke Irak, sehingga hubungan dengan Habsyi putus, dan Najasyi-najasyi yang datang kemudian, kembali ke dalam agama Nasrani.
Untuk melengkapi penafsiran ayat ini, kita salinkan sebuah riwayat lagi dari as-Suyuti dalam tafsirnya Ad-Durrul Mantsur yang diambilnya dari riwayat ath-Thabrani secara ringkas dan riwayat al-Baihaqi yang agak panjang, menerangkan pula kejadian lain tengang Pendeta-pendeta dan Rahib-rahib yang muliawan dan budiman itu, yaitu mengenai kisah Salman al-Farisi masuk Islam. risalahnurhamka.blogspot.co.id Disebutkan ringkasannya bahwa Salman dahulunya adalah beragama Majusi yang sedang mencari-cari agama yang lebih benar. Di Mausil itu mereka menemui pula seorang pendeta lain yang lebih tua, bertapa pada sebuah gua. Banyak orang menziarahi beliau, dan beliau banyak memberi nasihat kepada orang-orang yang menziarahinya. 

Dia memberi keterangan kepada Salman al-Farisi tentang penerus Nabi Isa, bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya. Dan pendeta itu tidaklah keluar-keluar dari dalam guanya, melainkan pada hari Ahad. Maka Salmanpun meneruskan perjalanannya dengan pendeta yang mula bertemu tadi, sampai ke Baitul Maqdis disanalah pendeta itu menyembuhkan orang sakit lumpuh dan di Baitul Maqdis itulah Salman mulai berpisah dengan dia. Dia memberikan nasihat supaya kalau berjumpa dengan Nabi itu hendaklah iman kepadanya. Kemudian mereka pun berpisah dan tak sempat berjumpa lagi. Salman meneruskan perjalanannya menumpang sebuah Kalifah ke Madinah. Disana Salman berjumpa dengan Rasulullah dan melihat tanda-tanda itu, lalu memeluk Islam. Oleh karana dia diperniagakan orang sebagai budak. Maka beramai-ramailah penduduk Madinah untuk menebus dia. Dalam sejarah Islam, Salman kemudian menjadi salah seorang yang penting, keraplah dia menceritakan bahwa dia memeluk Islam adalah karena petunjuk dari seorang pendeta yang menemaninya sampai ke Baitul Maqdis itu.

Dengan berbagai riwayat ini kita mendapat suatu kesan bahwa di zaman itu memang ada pendeta-pendeta yang tetap berpegang teguh kepada kepercayaan bahwa Almasih tetaplah Rasul Allah, dan masih pula percaya akan kedatangan Nabi di akhir zaman.


Sabtu, 28 Mei 2016

083-086 Al-Maidah (Part 1) Asbabun nuzul QS Al-Maidah ayat 83

Tafsir Al-Azhar Al-Quran Al-Maidah Ayat 83-86




وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ

مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا

فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ﴿٨٣﴾

(83)Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).

 وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَن

يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ﴿٨٤﴾

 (84)Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?".

 فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا

 الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ﴿٨٥﴾

(85)Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). 

 وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ﴿٨٦﴾

 (86)Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka. 

Terjemah dalam tafsir Al -Azhar (Dalam text terjemahan dibawah huruf arab menggunakan terjemahan dari departemen agama. Namun juga kami lampirkan terjemahan asli yang ada di tafsir al-Azhar. Perbedaan penafsiran ini dikarenakan penyusunan tafsir al-Azhar dilakukan sekitar tahun 1965, sehingga wajar bila ada perbedaan terjemahan dengan terjemahan departemen agama sekarang.)

 ayat 83 “Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, akan engkau lihat airmata mereka meleleh, lantaran apa yang telah mereka ketahui setengah dari kebenaran, merekapun berkata : Ya Tuhan kami, kami telah percaya, sebab itu tuliskanlah kami dari golongan orang-orang yang menyaksikan”. 

Ayat 84 “Mengapalah kami tidakkan beriman kepada Allah dan kepada yang datang kepada kami daripada kebenaran, dan rindulah kami akan dimasukkan kami oleh Tuhan kami beserta kaum yang shalih.”

 Ayat 85 Maka memberi pahalalah Allah kepada mereka lantaran apa yang telah mereka katakan itu, yaitu syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya. Dan itulah ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik.

 Ayat 86 Dan orang-orang yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Kami, adalah mereka itu ahli neraka.

 Ayat 83 ini adalah sambungan ayat sebelumnya, menerangkan bahwa orang Nasrani di zaman Rasullullah saw itu lebih dekat kepada orang yang beriman daripada orang Yahudi dan orang Muysrikin. Sebab yang utama adalah karena waktu itu memang ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang benar-benar jujur dan berhati bersih. Menurut kebiasaan pembagian juz-juz AlQuran, ayat 82 termasuk ujung juz 6 dan ayat 83 termasuk permulaan juz 7, sehingga terputus, padalah makna keduanya bersambung, maka sekarang diterangkanlah lanjutan bagaimana kebersihan hati pendeta-pendeta dan Rahib-rahib itu.

 “Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, akan engkau lihat airmata mereka meleleh, lantaran apa yang telah mereka ketahui setengah dari kebenaran” (pangkal ayat 83).

Demikianlah sambutan Pendeta-pendeta dan Rahib-rahib yang hati mereka penuh dengan kemuliaan itu bila mereka mendengar al-Quran dibacakan kepada mereka. Mereka sampai menangis mendengar beberapa ayat saja dibacakan. Sebab itu maka dikatakan di dalam ayat sebab mereka mengangis adalah setelah mereka mengetahui setengah dari kebenaran (Minal Haqqi). Baru sebagian saja yang mereka dengar, mereka sudah terharu, kononlah jika mereka mendengar seluruh isi al-Quran.

 Menurut riwayat an-Nasai dan Ibnul Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabrani dan Abusy-Syaikh dan Ibnu Mardawaihi, yang mereka terima dari Abdullah bin Zubair, pendeta-pendeta dan Rahib-rahib ini ialah orang-orang pembesar agama, yang hadir dalam majelis Najasyi ketikia dibacakan ayat-ayat al-Quran. Riwayat yang lain dari Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim dan Abu Naim di dalam kitabnya Al-Hullyah dan Al Wahidy dan Ibnu Syahab. Dia berkata

“Mengkhabarkan kepadaku Sa'id bin al-Musayyab dan Abu Bakar bin Abdurrahman dan al-Harits Ibnu Hisyam dan Urwah bin Zubair, mereka semua mengatakan, bahwa Rasulullah saw telah mengutus Amr bin Umayyah adh-Dhamriy membawa sepucuk surat kepada Najasyi. Maka pergilah dia menghadap Najasyi, dan dibacalah surat Rasulullah itu.” Jadi rupanya isi surat Rasulullah saw ialah meminta supaya sudi kirinya Najasyi memberikan perlindungan kepada sabahat-sahabat beliau yang telah datang memperlindungkan diri ke negeri itu, yang dikepalai oleh Ja'far bin Abu Thalib. Maka setelah Baginda Raja Najasyi mendengar isi surat Rasulullah dibacakan, Baginda suruhlah panggil orang-orang Muhajirin itu dengan ketuanya sekali, yaitu Ja'far. Kemudian itu Baginda menyuruh pula panggil Pendeta-pendeta dan Rahib-rahib supaya merekapun turut hadir dalam Majelis itu. Kemudian Baginda suruhlah Ja'far membaca sebagian dari ayat-ayat Al-Quran dihadapan Pendeta-pendeta dan Rahib-rahib itu. Oleh Ja'far dibacanyalah Surat Maryam. Mendengar surat itu dibacakan, berimanlah mereka semuanya dan bercucuran airmata mereka mendengarkan.

 Tersebutlah pula dalam riwayat yang lain dari Abusy-Syaikh, yang diterimanya dari Qatadah, bahwa ketua-ketua Quraisy tiada bersenang hati karena mereka melindungkan diri kenegeri itu. Banyaknya empat puluh orang, maka diutuslah oleh Quraisy dua orang yang bijak untuk menghadap Najasyi. Memohonkan agar orang-orang Muhajirin itu diserahkan kembali kepada mereka, supaya mereka bawa pulang ke Makkah. Kedua utusan itu ialah 'Amr bin al Ash dan Ummarah bin al-Walid. (Sebelum keduanya masuk Islam). Tetapi Najasyi tidaklah mau memperturutkan kedua utusan itu sebelum Baginda mendengar sendiri dari orang-orang itu apa sebenarnya pendirian agama mereka terhadap Nabi baru itu. Lalu mereka dipanggil menghadap sehingga berhadap-hadapanlah mereka dengan utusan Quraisy dlam Majelis Najasyi.

Seketika Najasyi bertanya tentang Nabi itu, atas nama bersama Ja'far memberikan keterangan. “Memang, kepada kami telah diutus seorang Nabi, sebagai yang telah diutus juga kepada umat-umat yang sebelum kami. Dia telah menyeru kami berbuat ma'ruf, dia telah melarang kami berbuat yang munkar. Dia telah memerintahkan kami supaya menghubungkan kasih-sayang dan jangan memutuskannya. Dia telah menyuruh kami memenuhi janji dan melarang kami memungkirinya. Tetapi sayang sekali, kaum kami telah benci kepada kami lantaran itu, sampai kami diusir karena kami percaya kepadanya. Maka tidak ada kami menapak orang lain untuk mencari perlindungan, melainkan engkaulah. Dan itu sebabnya maka kami ke mari.” mendengar itu terharu Najasyi dan serta-merta dia menyambut “Memang”.

Tetapi 'Amr bin al'Ash belum kehabisan akal, lalu dia berkata sebagai hasutan. “Mereka berkata tentang Isa lain sekali dengan apa yang kamu percayai!” Maka bertanyalah Najasyi kepada mereka. Bagaimana kepercayaan kamu tentang Isa Almasih? Lalu mereka jawab “Kami naik saksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan RasulNya dan KalimatNya dan RohNya. Dilahirkan oleh seorang perawan yang suci!” lalu Najasyi menyahut “Memang begitu. Kalian tidak salah!” Lalu Baginda berkata pula kepada 'Amr dan kawannya itu “Kalau bukanlah kalian ini tetamuku, niscaya telah aku hukum kalian” (BERSAMBUNG )

Jumat, 27 Mei 2016

Mukamadinah Juz 7

Muqaddimah Juzu' 7




Diantara begitu banyak surat-surat di dalam alquran yang berjumlah sampai 114 surat. Ada yang diturunkan di Makkah dan ada yang diturunkan di Madinah. Maka surat al-An'am ini mengandung riwayat yang istimewa. Ath-Thabrani meriwayatkan yang diterima dari sanad riwayat itu dari Ibnu Abbas. Bahwasanya surat sepanjang ini mengandung 165 ayat adalah satu-satunya surat yang sekaligus diturunkan pada satu malam di negeri Makkah, ditambah kan lagi dalam riwayat ath-Thabrani itu bahwasanya 70.000 malaikat turun mengiringkan ketika ayat-ayat yang 165 itu turun, yang semuanya mengucapkan tasbih kepada Allah.

Asma bin Yazid menguraikan pula, menjelaskan bahwa surat yang satu ini turun sekaligus. Ketika itu Nabi s.a.w sedang mengendarai seekor unta. Maka ketika ayat turun, unta itu tidak dapat mengangkat kakinya karena terlalu berat, sehingga tulang-tulang unta itu rasakan hendak patah karena beratnya.

Di dalam sebuah Hadis yang shahih dirawikan oleh Muslim, Nabi s.a.w pernah bersabda berkenaan dengan keistimewaan turunnya surat ini. Nabi bersabda

“Malaikat-malaikat telah mengawal turunnya surat ini demikian banyaknya sehingga memenuhi ufuk.”

Dirawikan pula dalam Hadis yang lain oleh ath-Thabrani bahwa Nabi s.a.w bersabda.

“Telah diturunkan surat al-An'am dikawal oleh segolongan besar malaikat, sampai memenuhi segala penjuru dan semuanya mengucapkan tasbih, dan bumipun jadi goncang.” Ketika itu Rasulullah s.a.w membaca

“Amat sucilah Allah yang Maha Agung. Maha sucilah Allah yang Maha Agung.”

Dan lagi beberapa hadis yang lain, yang sama maksudnya, menerangkan bahwa 165 ayat daripada surat Al-An'am ini turun sekaligus. Diiringkan oleh malaikat-malaikat 70000 banyaknya. Artinya banyak sekali malaikat yang mengiringkan dan malam turunnya Surat ini hebat sekali, seakan-akan bergoncang dan tasbih malaikat mengaum memenuhi ruang angkasa.

Diambil kesan daripada segala riwayat ini, yang satunya menguatkan yang lain, sehingga ahli-ahli tafsir selalu tidak ketinggalan membawakan riwayat surat ini. Sebab surat al-An'am ini adalah surat keenam surat al-A'raf surat ketujuh. Dimulai menghitung dari al-Fatihah. Meskipun surat al-Fatihah terhitung surat pendek hanya mengandung tujuh ayat, namun sampai surat al-A'raf telah dimasukkan ke dalam surat tujuh yang panjang. Malahan ada ahli-ahli tafsir dan penyelidik sejarah turunnya surat-surat berpendapat bahwa surat al-Anfal dengan surat at-Taubah (Bara-ah) pada asalnya ialah satu surat juga lalu dipisahkan jadi dua. Dengan tidak membacakan dan tidak menuliskan Bismillah pada awal Surat Bara-ah (at-Taubah) itu.

Maka Surat al-An'am ini termasuklah dalam surat yang panjang-panjang itu. Apakah sebabnya surat al-An'am ini diturunkan sekaligus, diiringkan oleh 70.000 malaikat, turun pada satu malam. Dan bumi seakan-akan tergoncang, unta yang membawa Nabi pun tidak sanggup melangkahkan kakinya karena beratnya tekanan ayat seketika ia turun.

Hal ini dapatlah kita fahamkan apabila kita renungkan isi dan intisari daripada ayat-ayat yang tersusun dalam surat al-An'am ini. Keutamaan isinya ialah karena ia mengandung intisari sejati dari Risalah, dari kerasulan Nabi Muhammad s.a.w itu. ia adalah mengandung akidah, pokok utama kepercayaan Tauhid seorang Muslim. Surat-surat yang sebelumnya yang panjang-panjang sejak al-Baqarah sampai kepada al-Maidah telah menerangkan berbagai hukum sebagai peraturan mengenai masyarakat Islam secara terperinci, sampai memperkatakan peraturan bermasyarakat, mengatur nikah-kawin, talak dan rujuk, membagi-bagikan pusaka (faraidh) orang yang telah wafat, mengatur siapa saja yang boleh dikawini dan bagaimana pula peraturan mengerjakan haji, sampai kepada peraturan berjual beli, tulis menulis soal hutang piutang, maka pada surat al-An'am. Allah kembali menerangkan tentang Akidah, pegangan hidup sejati bagi seorang Muslim. Kepercayaan kepada keesaan Allah dan Kepercayaan urutan daripadanya, percaya kepada Malaikat , kepada kitab-kitab, kepada Rasul, Kepada hari kiamat dan kepada perhitungan takdir yang harus dihadapi di dalam hidup ini. Kemanapun seorang Muslim menghadapkan wajahnya. Maka dapatlah mengapa surat yang satu ini diturunkan sekaligus. Surat ini yang diturunkan di Makkah yaitu sebelum hijrah ke Madinah adalah menuruti pepatah Melayu yang terkenal. Hidup yang akan dipakai, mati yang akan ditumpang, bagi sekalian muslim yang telah menyediakan dirinya menjadi pengikut Rasul.

Oleh sebab itu selama hidup dan berjuang di Makkah 13 tahun lamanya, sebelum hijrah ke Madinah akidah inilah yang terlebih dahulu dimatangkan, diresapkan, dalam jiwa setiap yang telah mengaku beriman kepada Allah. Bertambah teguh orang memegang akidahnya, bertambah ringanlah segala yang berat, bertambah mudahlah segala yang sukar dan bertambah dekat segala sesuatu yang jauh.

Oleh sebab itu setelah berturut-turut di dalam Surat Al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa' dan al-Maidah manusia diberi ingat tentang peraturan yang harus dijalankan, syariat yang harus ditempuh. Maka dalam surat al-An'am manusia kembali dimantapkan akidahnya dalam 165 ayat, sehingga umat itu sanggup menghadapi segala kemungkinan yang akan dihadapi.

Oleh karena itu jika kita membaca surat al-An'am yang harus kita lakukan ialah kesediaan jiwa menghadapi segala segi dari kehidupan, ketaatan kepada Allah dan jiwa yang tidak boleh terbelah lagi, memberi nilai di hidup yang fana di dunia ini agar mencapai baqa di akhirat kelak.

Inilah rahasia yang terkandung di dalam surat al-An'am, yang kami mengharap moga-moga tiap-tiap ayatnya membuka jalan baru, jalan lurus dan kehidupan yang tidak mengenal ragu dan bimbang, untuk menuju kebahagiaan melalui Siratal Mustaqim, atau Jalan Yang Lurus.

Kamis, 26 Mei 2016

Sekilas Pandang HAMKA



Sekilas Pandang Hamka


Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.





”Di sepetak ruang. Di sudut lorong-lorong gelap, berkelok, tak tahu di mana ujungnya.Ruangan itu tak kalah gelap. Hanya cahaya dari balik jendela kecil di atas sana yang lariknya menembus, membelai debu-debu beterbangan, menyapa lembaran kertas yang menumpuk. 

Lembaran yang begitu rapi. Lembaran yang ia tulis, selama dua tahun 4 bulan. Di balik jeruji, di pinggiran Sukabumi. Atas tuduhan makar, kezaliman rezim tiran tak berdasar.Haji Abdul Malik Karim Amrullah, karib disapa Buya Hamka. Kalam suci Ilahi, dengan tekun, ia ulang hafalannya. Mengejaayat demi ayat. Merenungkan satu per satumaknanya, hingga khatam, seluruhnya tergenapi. Ada haru membiru. 

Ada tangis berlapis senyum bahagia, di sana. Allah terasa begitu dekat.Seperti Ibnu Taimiyyah dulu kala. Berteman secarik kertas, berikut tinta danpena. Tempat menorehkan tulisan hasil perenunangan. Berjilid-jilid karya keluar dari balik jeruji. Orang-orang berdatangan,meminta fatwa. Dari balik jeruji besi itu, dalam gelap ia menjawab. Jadilah berjilid-jilid Majmu Fatawa di sana. 

Tak ada rasa takut sama sekali. Bahwa penjara baginya, adalah surga.Malam harinya diisi dengan berdiri, rukuk, sujud. Sungguh, tak ada yang terpenjara disana. Jiwanya merdeka. Tak ada yang terkekang di sana. Tangannya lincah menulis pesan penuh makna. Alam pikirnya mengembara, merenungi KemahaanNya.Atau seperti laiknya sahabat seperjuangan di belahan bumi lain, Mesir, Sayyid Quthb. Rezim tiran tak mampu membungkam alam pikirnya, meski jasad terpenjara. 

Bertemankan lembaran kertas, juga pena. Lahirlah karya monumental Tafsir Fii DzilalAl Quran.Buya Hamka, nyaris serupa. Tafsir Al Quran 30 Juz yang kelak dinamakan TafsirAl Azhar ia rampungkan, ditemani dinginnyajeruji besi, di masa kepemimpinan Soekarno. Rezim berganti, orde lama berganti rezim yang dinamai orde baru. Takdisangka, Buya Hamka bisa menghirup udara bebas.Hamka dan SoekarnoSetelah bebas dari penjara, Hamka tak tahu kabar Soekarno, penguasa yang memenjarakannya kala itu. Ingatannya melompat ke masa ke belakang. Saat ia tanpa tedeng aling-aling mengritik pemerintahan yang akan memaksakan penerapan sistem demokrasi terpimpin.

“..Trias Politica sudah kabur di Indonesia….Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme…Front Nasional adalah partaiNegara…” teriak Hamka menggema di Gedung Konstituante tahun 1959, ketika memajukan Islam sebagai dasar Negara Indonesia dalam sidang perumusan dasar Negara. Tak lama, Konstituante dibubarkanoleh Soekarno. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai temapat bernaung Buya Hamka pun dibubarkan paksa. Para pimpinannya ditangkap, dijebloskan ke balik jeruji.

Perbedaan pandangan politik Hamka yang dikenal Islamis, dengan Soekarno yang seorang sekularis, kian menajam dengan penangkapan dan pemenjaraan rival-rival politiknya. Meski begitu, tak ada sumpah serapah yang keluar dari seorang Buya Hamka kepada sang pemimpin kala itu. Saatdijemput paksa untuk langsung dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan, Hamkahanya pasrah, bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla.Pun setelah bebas, tak ada dendam di sana.Tak ada rasa ingin membalas, menuntut, atau melakukan tindakan membela diri. Padahal, ketika itu, buku-buku karangan Buya dilarang beredar oleh pemerintah. 

Tak ada rasa kesal di sana. Tak ada mengeluh, atau umpatan. Semua ia serahkan kepada Allah, sebaik-baik penolong.Justru, demikian besar keinginan Hamka untuk bersua Soekarno. Mengucap syukur, karenanya, ia bisa menyelesaikan Tafsir Al Azhar dari balik penjara. Karenanya, ia bisabegitu dekat dengan Allah. Karenanya, jalan hidupnya begitu indah, walau penuh ragam ujian.Soekarno, dimanakah sekarang ia berada? Tak tahu..Begitu rindu, Hamka ingin bertemu dengannya. Tak ada marah dari seorang Buya. Telah lama..telah lama sekali,kalaupun Soekarno mengucap maaf, telah lama hatinya membuka pintu maaf selebar-lebarnya. Bahkan, ada syukur di sana.Tapi dimana? Di mana Soekarno sekarang? Ingin sekali Buya bertemu dengannya. Pertanyaannya terjawab, namun bukan jawaban biasa. 

16 Juni 1970, Ajudan Soeharto, Mayjen Soeryo datang menemui Hamka di Kebayoran, membawa secarik kertas. Sebuah pesan — bisa dibilang pesanterakhir — dari Soekarno. Dipandangnya lamat-lamat kertas itu, lalu dibaca pelan-pelan.“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”Mata begitu bening, seperti halnya kaca membaca tulisan ini. Sebuah pesan, dari seorang mantan pucuk pimpinan negeri. Dimana? Dimana Soekarno sekarang? Begitu rindu ingin bertemu dengannya. Mayjen Soeryo berkata, “Ia..Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD. Sekarang jenazahnya telah di bawa ke Wisma Yoso.”Mata ini semkin berkaca-kaca. Tak sempat..rindu ini berbalas. 

Hamka hanya dapat bertemu dengan sosok yang jasadnyasudah terbujur kaku. Ingin rasanya, air mata itu mengalir, namun dirinya harus tegar. Ia kecup sang Proklamator, dengan doa, ia mohonkan ampun atas dosa-dosa sang mantan penguasa, dosa orang yang memasukkannya ke penjara.Kini, di hadapannya, terbujur jasad Soekarno. Sungguh, kematian itu begitu dekat. Dengan takbir, ia mulai memimpin shalat jenazah. Untuk memenuhi keinginan terakhir Soekarno. Mungkin, ini isyarat permohonan maaf Soekarno pada Hamka. Isak tangis haru, terdengar di sekeliling.Usai Shalat, selesai berdoa, ada yang bertanya pada sang Buya,”Apa Buya tidak dendam kepada Soekarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?”Dengan lembut, sang Buya menjawab,” Hanya Allah yang mengetahui seseorang itumunafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik.Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu anugerah dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al Quran 30 Juz. 

Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”Sungguh, air mata menetes mendengar penjelasan Buya. Begitu luas jiwanya, hingga permasalahan, baginya ialah setitik tinta, yang diteteskan ke luasnya samudera. Tak ada bekas di sana. Tak pernah ada rasa dendam sama sekali. Dengan senyum dan tenang, ia jalani semua lika-liku kehidupan.

Sumber:
https://www.islampos.com/buya-hamka-ketika-air-tuba-dibalas-air-susu-83106/?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C9286687541