083-086 Al-Maidah (Part 3) Iman di Lisan dan Tindakan.
Riwayat perkembangan Kristen sendiripun mengakui timbulnya perselisihan di kalangan mereka, yang akhirnya telah meletakkan golongan yang berpegang teguh pada tauhid menjadi golongan yang kalah, dikucilkan dan disisihkan, dan kepercayaan mereka tidak dianggap sah. Meskipun demikian di setiap zaman timbul juga golongan itu dan ditindas juga, namun ketimbulannya tidaklah dapat dibendung. Dan kadang-kadang timbul juga pendeta-pendeta yang bersih hati, terbuka hatinya kepada kebenaran, lalu masuk Islam. Malahan Raja besar sebagai Najasyi dan beberapa di antara Pendeta dan Rahib pengikutnya, dengan sukarela sendiri memeluk Islam. Heraclius Raja Romawi di Suriah dan Muqauqis Raja Muda Romawi di Mesir tidak dapat memeluk kebenaran seruan Islam itu, cuma jabatan mereka masing-masing saja yang menyebabkan mereka tidak mau memeluk Islam, karena tidak mempunyai keberanian budi. Berlainan halnya dengan Jafar dan adikny 'Abd, dua orang Raja di negara Oman, setelah mereka menerima seruan Rasulullah, merekapun memeluk Islam. Sebagai yang dulu telah pernah kita terangkan.
Kemudian dilanjutkan pula tentang keadaan Pendeta-pendeta dan Rahib-rahib yang terbuka hati menerima iman karena mendengar ayat-ayat alQuran itu. Demikian lanjutannya “Mereka berkata: Ya Tuhan kami, kami telah percaya.” Artinya bahwa segala keterangan ayat-ayat itu telah kami dengar, maka tidaklah dapat dibantah kebenarannya, sebab itu berimanlah kami kepadanya: “Sebab itu tuliskanlah kami dari golongan orang-orang yang menyaksikan.” (Ujung ayat 83).
Artinya, catatkanlah kami, atau masukkanlah kami dalam daftar orang yang menyaksikan dan mengakui. Tegasnya lagi bahwa dengan begini, terimalah kiranya syahadat kami: Asyhadu alla ilaha illallah, wa ashyhadu anna Muhammadar Rasulullah!
Lalu dilanjutkan lagi keterangan dan alasan mereka, mengapa mereka bersikap setegas itu? Lalu datang jawaban dalam terusan ayat:” Mengapalah kami tidakkan beriman kepada Allah dan kepada yang datang kepada kami daripada kebenaran .” (pangkal ayat 84)
Mengapalah kami tidak beriman kepada yang diturunkan Allah ini yaitu Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw padahal setelah kami ujikan dengan wahyu yang terlebih dahulu didatangkan kepada kami dengan perantaran nabi-nabi yang terdahulu, baik Musa ataupun Isa Almasih, nyata bahwa hakikatnya satu jua dan kebenaran itu hanya satu.
“Dan rindulah kami akan dimasukkan oleh Tuhan kami beserta kaum yang shalih” (ujung ayat 84).
Ujung ayat ini adalah menunjukkan kelanjutan wajar dari iman. Kalau seseorang telah mengakui kebenaran Wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw karena memang sesuai dengan pokok ajaran segala agama, timbullah cita-cita dan kerinduan agar dimasukkan Allah dalam golongan orang yang shalih-shalih. Kalau pengakuan atas kebenaran telah ada, kalau iman sudah diterima, mestilah ada kelanjutannya, yaitu melaksanakan keimanan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Agar bertemu diantara teori dengan praktek. Tidaklah mungkin seseorang mengaku dirinya beriman, kalau tidak nampak usahanya menyesuikan kehidupannya dengan kepercayaan yang dianutnya. Maka didalam ayat ini diterangkan bahwa Pendeta-pendeta Nasrani itu, setelah mereka mengaku beriman, bercita pula agar Allah memasukkan mereka dalam golongan orang-orang yang shalih dan kehidupan yang shalih itu telah mereka saksikan sendiri pada sahabat-sahabat Rasulullah saw yang datang melindungkan diri ke negeri Habsyi itu. Seumpama Ja'far bin Abu Thalib, Usman bin Mazh'un dan Muhajirat. Yang selama mereka melindungkan diri di negeri Habsyi itu, kehidupan mereka sehari-hari, ketinggian budi dan akhlak mereka patut dijadikan contoh teladan. Contoh ketinggian budi yang diperlihatkan oleh sikap hidup lebih besar pengaruhnya daripada pidato-pidato atau ucapan mulut.
Ayat ini memberi contoh teladan kepada kita. Bahwasanya kehidupan Muslim yang sejati, yang shalih dapatlah menarik hati orang lain agama, yang batinnya tidak terpengaruh oleh rasa benci yang telah ditanamkan beratus-ratus tahun. Ketika Mulana Abdul Aleem ash-Shiddiqy, seorang Mubaligh Islam dari Pakistan mengadakan pidato-pidato dan da'wah dibeberapa negeri di Eropa dan Amerika, banyak orang Kristen tertarik kepada Islam dengan bimbingan beliau. Sebab yang utama ialah dalam kehidupannya sendiri Maulana tersebut menunjukkan teladan hidup yang sederhana.
Syaikh Muhammad Abduh pernah menceritakan bahwasanya seketika beliau melawat di beberapa negeri di Eropa, sesampai beliau di Weenen, seorang perempuan Eropa telah tertarik kepada belau, lalu meminta petunjuk kepada beliau berkenaan dengan Islam. Perempuan itu menyatakan terus terang bahwa selama ini dia menyangka bahwa yang bisa hidup shalih itu hanya Pendeta-pendeta Kristen saja. Tetapi setelah melihat beliau dan memperhatikan sikap hidupnya, barulah perempuan itu tahu bahwa di luar Kristenpun ada orang seperti demikian.




