Jawaban Orang Kristen lebih dekat kasih sayangnya kepada Islam daripada orang Yahudi dan orang Musyrikin.
Penulis Tafsir inipun dalam lawatannya ke Amerika (1962) telah mengalami hal yang serupa seketika melawat ke University Chicago yang terkenal. Di sana penulis telah menjadi tetamu dari seorang Profesor Warga negara Amerika keturunan Jepang dan telah memeluk agama Kristen. Lebih dari satu jam kami bertukar pikiran dalam suasana persahabatan yang mesra tentang agama, kebudayaan, perbedaan Timur dengan Barat dan Filsafat, dan terutama sekali tentang Filsafat Ajaran Islam.Demikian asyik percakapan kami, sampai di penutupnya beliau berkata “ Sayang sekali, orang yang seperti tuan jarang sekali datang melawat ke negeri ini. Orang di sini telah tenggelam ke dalam alam kebendaan, sehingga tidak ada kesempatan lagi menilai dan menggali soal kerohanian. Dan beberapa orang Indonesia terkemukapun telah datang ke negeri ini, dan datang ke University ini, tetapi saya tidak mendapat keterangan seperti yang tuan katakan itu. Apakah banyak orang yang berfaham seperti tuan di negara tuan?”
Saya tidak dapat memberikan jawaban yang tegas tentang pertanyaan yang terakhir. Cuma sekarang kita kembali kepada ayat yang tengah kita tafsirkan. Didalam ayat ini kita melihat dua hal yang dapat memengaruhi sehingga Pendeta Kristen sendiri bisa dengan segala keikhlasan menerima Islam jika mendengar bunyi ayat dan memahami artinya. Kedua jika melihat contoh kehidupan Islam itu menjelma atau menubuh dalam diri penganutnya dan iman yang seperti itu mendapat sambutan kasih-mesra dari Tuhan.
“Maka memberi pahalalah Allah kepada mereka lantaran apa yang telah mereka katakan itu” (pangkal ayat 85)
Mereka diberi pahala oleh Allah, karena mereka telah berani mengatakan kebenaran dan terus terang, yaitu bahwa hati sanubari mereka telah menerima Tauhid, mereka tidak bertahan lagi pada faham yang sesat dari hakikat agama. Yaitu mengatakan bahwa Allah itu beranak, atau Allah itu adalah anak itu sendiri. Mereka mendapat pahala karena mereka telah berani menentang suasana sekeliling, lalu kembali kepada ajaran yang sejati dan asli daripada Rasul-rasul, yaitu ajaran Tauhid. Pahala itu ialah “Yaitu syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya”
Tegasnya bahwa permohonan mereka yang tersebut di atas tadi, supaya kedudukan mereka disamakan Allah dengan orang-orang yang shalih itu dikabulkan oleh Allah sebab dengan sikap mereka menyatakan diri mengakui dan menyaksikan kebenaran yang dibawa Rasul, sampai titik airmata karena terharu, karena menerima kebenaran, adalah bukti pertama yang menunjukkan bahwa mereka sendiri telah mendekati tempat orang yang shalih-shalih. Apatah lagi kemudiannya telah mereka iringi dengan amal perbuatan. Dan Rasulullah saw selalu mengatakan bahwa sanya Islam itu adalah menghapuskan segala dosa zaman lampau yang pernah dikerjakan. Orang-orang yang maju dalam Islam sendiripun seumpama Abu Bakar, Umar dan yang lain-lain, dahulunyapun orang musyrik penyembah berhala. Merekapun titik airmata mendengarkan ayat Allah dibacakan Nabi, merekapun beriman dan menyaksikan, dan mereka berjuang menegakkan itu dalam kehidupan mereka. Lantaran itu merekapun dijanjikan masuk syurga. Maka tidaklah ada perbedaan penghargaan Allah terhadap seluruh hambaNya, asal hamba itu benar beriman, menyaksikan dan berbuat perbuatan yang shalih. “Dan itulah ganjaran bagi orang-orang yang berbuat baik.” (ujung ayat 85).
kalimat di ujung ayat ini ialah Muhsin. Kita artikan “orang-orang yang berbuat baik.” atau yang selalu berbuat baik dan selalu memperbaiki dan mempertinggi mutu perbuatannya. Sebab iman, pengakuan dan penyaksian itu menghendaki kegiatan selalu
Amal shalih itu hendaklah selalu ditingkatkan dan dinaikkan mutunya, jangan dicukupkan dengan apa yang telah didapat saja. Iman itu bisa memuncak naik, kalau selalu dipelihara dan dipertinggi, dan bisa pula meluncur turun sehingga habis kalau tidak ada pemeliharaan. Sebab itu datanglah petunjuk Rasulullah saw tentang arti ihsan itu, seketika Jibril menanyakan kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah dengan matamu sendiri. Dan meskipun Allah tak dapat engkau lihat dengan mata, namun Allah tetap melihatmu. Sebab itu hendaklah selalu engkau berbuat ihsan.
Orang Yang Kafir
Sekarang tentu datang pertanyaan dalam hati kita. Kalau demikian terang dan nyata-nyata penghargaan Allah kepada orang-orang Nasrani sehingga dikatakan bahwa dibandingkan dengan Yahudi dan Musyrikin, orang yang mengaku dirinya Nasrani itulah yang lebih dekat kepada Islam. Merekalah yang melancarkan Perang Salib 200 tahun lamanya di zaman lampau, merekalah yang memusnahkan orang Islam dari Spanyol setelah kaum Muslimin hidup disana sampai 700 tahun.
Dan mereka menyambung perang salib itu dengan penjajahan. Dan sekarang setelah negeri-negeri Islam merdeka, mereka pula yang melakukan Perang Salib Modern. Timbul pertanyaan “Apakah ayat ini tidak berlawanan dengan kenyataan?”
Jawabnya : “Tidak!”
Sebab ayat ini langsung diiringkan oleh ayat berikutnya. Ayat 85 diikuti oleh ayat 86 yang bunyinya demikian:
“Dan orang-orang yang kufur dan mendustakan ayat-ayat Kami, adalah mereka itu ahli neraka.” (ayat 86).
Ayat ini memberi kejelasan bahwasanya Nasrani itu terbagi dua macam di dalam menerima perutusan Nabi Muhammad saw. Sebagian beriman kepadanya dan sebagian lagi kafir. Di dalam surat 98 (Al-Bayyinah) sudah dijelaskan bahwasanya orang yang kafir dari Ahlul kitab dan Musyrikin itu akan tetap berpegang teguh dengan kepercayaan mereka yang sesat itu, sampai datang kepada mereka penerangan yang jelas. Karena Rasul, yaitu Nabi Muhammad saw diutus Allah membawa suhuf-suhuf, yaitu lembaran yang suci yang didalamnya ada kitab-kitab yang bermutu tinggi. Kemudian diterangkan lagi bahwasanya mereka-merekay yang keturunan kitab itu berpecah-belah sesudah datang keterangan itu. Yang setengahnya menerima kebenaran, mengakui kedatangan Rasul dan setengahnya lagi kafir, tidak mau percaya.
Maka ayat 86 yang tengah kita uraikan ini adalah satu maksudnya dengan ke 6 dari surat al-Bayyinah tersebut. Yaitu bahwasanya orang-orang yang kafir, dari Ahlul Kitab ataupun dari Musyrikin, tempatnya ialah dalam neraka jahannam, dan akan kekal mereka didalamnya. Mereka itu ialah sejahat-jahat manusia.
Dengan tegas dikatakan kafir orang yang berkata bahwa Allah itu ialah yang ketiga dari yang bertiga. Padahal tidak ada Tuhan kecuali hanya satu. Ini ditegaskan dalam surat al-Maidah (surat 5) ayat 75, juz 6. yang telah lalu keterangannya. Dan setelah itu, yaitu pada ayat 17 dari surat al-Maidah ini juga telah dijelaskan secara langsung, yaitu bahwa kafirlah orang yang mengatakan bahwa yang Allah itu ialah Isa anak Maryam.
Mereka telah kafir, bukan saja kepada Muhammad dan al-Qurannya, tetapi mereka telah kafir kepada kebenaran yang dibawa oleh sekalian Rasul Allah, karena tidak ada ajaran dalam seluruh kitab yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-rasulnya yang menyatakan bahwa Dia Tuhan Allah itu, tidak lain ialah Isa Almasih. Dan tidak pula pernah Isa Almasih mendakwakan bahwa dirinya sendirilah yang Allah itu. Dan tidak tersebut pada kitab-kitab Nabi Allah dan Ruhul Qudus, yang disebut tiga berarti satu dan satu berarti tiga.(Trinitas) maka kalau dikatakan bahwa faham-faham seperti ini kafir, bukanlah semata-mata kafir kepada Muhammad, tetapi kafir kepada Kebenaran. Maka neraka jahanamlah tempatnya.
Lantaran itu pula janganlah orang menyesali kaum Muslimin kalau sekiranya kaum Muslimin menganggap orang Yahudi dan Nasrani itu kafir. Karena memang al-Quran yang mengatakan mereka kafir. Golongan yang kafir inilah yang menyelenggarakan Perang Salib. Dan golongan inilah yang disebutkan dalam surat al-Baqarah ayat 105 bahwa mereka tidak merasa senang kalau kebaikan akan diturunkan Allah kepada kaum Muslimin. Dan golongan inilah yang diterangkan oleh surat al-Baqarah ayat 109, yang tidak merasa senang hati sebelum mereka dapat menarik orang yang beriman kepada Allah agar kafir sebagaimana mereka pula.
Maka dengan ayat-ayat yang tengah kita tafsirkan ini, yang dimulai dengan akhir juz 6 yang menerangkan bahwa Yahudi dan kaum Musyrikin lebih memusuhi Islam dan orang yang mengaku Nasrani lebih dekat cinta kasihnya kepada Islam, adalah ayat yang adil, menunjukkan kebenaran bahwa di samping yang sangat memusuhi Islam, ada juga orang Kristen itu yang tidak mau mengikatkan dirinya kepada fanatik dan rasa benci yang ditanamkan turun-temurun.
Lihatlah kembali Asbabun Nuzul yaitu ketika Ja'far bin Abu Thalib diundang menghadiri majelis Raja Najasyi, Ja'far telah membaca Surat Maryam, yang menerangkan kesucian Maryam dan kelahiran Nabi Isa dengan tidak berbapa; sampai Najasyi dan Pendeta-pendeta yang hadir menangis belaka mendengar kisah yang benar dan indah itu. Tiliklah Injil yang empat yang beredar sekarang ini, lalu bandingkan dengan kisah Maryam dalam al-Quran. Asal orang berfikir, dengan adil dan benar, orang pasti akan mengatakan bahwa pembelaan al-Quran terhadap Maryam lebih luas dan lebih mendalam daripada pembelaan Injil-injil itu sendiri.
Memang al-Quran lebih menegaskan bahwa Maryam mengandung dengan kehendak Allah. Al-Quran tidak memberi keraguan dalam hal itu. Al-Quran tidak mengatakan bahwa Maryam lalu kawin dengan Yusuf tukang kayu, padahal Maryam tengah mengandung. Dan sebelum mengandung itu, al-Quran menegaskan bagaimana kesucian Maryam, bagaimana dia diasuh oleh Zakariya di waktu kecilnya. Sebab ibu Maryam, atau isteri Imran telah bernazar bahwa jika anaknya lahir akan dijadikan penjaga Bait Allah (Baitul Maqdis). Kebetulan anak itu perempuan, bukan laki-laki sebagai yang dia harapkan. Namun nazarnya dipenuhinya juga. Diantarkannya juga anak perempuan itu ke Baitul Maqdis sampai dia besar dibawah asuhan Zakariya, suami saudara ibunya. Sesudah diterangkan panjang lebar bagaimana kesucian ini, baik dalam Surat Maryam yang turun di Makkah, atau dalam Surat Ali Imran yang turun di Madinah, barulah diterangkan kelebihan Isa Almasih. Dan surat Maryam yang turun diMakkah inilah yang dibacakan Ja'far bin Abu Thalib dihadapan Najasyi. Hati beliau yang suci bersih, demikian pula hati Pendeta-pendeta yang turut duduk dalam Majelis beliau, pasti tergetar dan terharu mendengar kisah, sehingga mereka masuk Islam.
Kemajuan Ilmu Pengetahuan Alam sekarang ini telah membawa ahli cerdik pandai kepada kesimpulan bahwa Allah adalah ESA. Dan kelahiran Almasih dengan tidak melalui hal yang biasa, bukanlah alamat bahwa Isa itu sendiri adalah Tuhan. Sebab beribu-ribu banyaknya kelahiran dalam alam ini yang lebih ajaib daripada kelahiran Isa Almasih, seumpama kelahiran matahari, kehadiran Bulan dan bintang-bintang, tumbuhnya kayu-kayuan, mengalir air ke lautan, jauh lebih dahsyat dan ajaib daripada kelahiran Isa Almasih, namun semuanya itu tidaklah Anak Tuhan.
Sekarang terjawablah keragu-raguan yang timbul di dada orang yang melihat perbedaan ayat-ayat al-Quran yang mengatakan bahwa Orang Kristen lebih dekat kasih sayangnya kepada Islam daripada orang Yahudi dan orang Musyrikin. Teranglah bahwa yang lebih dekat kepada Islam itu ialah orang Kristen yang ikhlas, yang tidak dikotori kepercayaannya dengan rasa kebencian. Dan dijelaskan pula dalam ayat ini bahwa hal ini kebanyakan timbul tekun menuntut kebenaran, sampai airmata mereka titik. Orang Kristen yang ini pulalah yang di dalam Surat Al-Baqarah ayat 62 disamakan derajatnya dengan orang yang beriman dengan Yahudi dan Shabi'in, sama-sama mendapat pahala di sisi Allah, sama-sama tidak merasa takut dan berduka cita, sebab mereka beriman kepada Allah dan hari yang akhir. Bukan seperti Pendeta-pendeta di zaman kita sekarang ini. Dan bertambah jelas pula kebanyakan Pendeta-pendeta Agama itu dikerahkan ke negeri-negeri Islam yang terjajah, atau bekas terjajah oleh Negara-negara Imperialis dan Kapitalis dalam rangka perang Salib . Kadang-kadang agama itu dipakai oleh penakluk-penakluk untuk pendekatan. Stalin yang amat benci kepada segala agama, seketika negeri Rusia diserang Jerman, telah mendekatkan diri kepada gereja atau kepada orang Islam, menyuruh mereka berdoa dan sembahyang, guna memperkuat semangat Rusia menangkis serangan Jerman. Dunia Barat telah makin lama makin membuang Agama Kristen itu dari kehidupan mereka, dan hanya digunakan untuk menentang Islam di negeri-negeri yang penduduknya teguh pada Islam.